Saturday

Saya tidak mungkin jadi Aktivis Selamanya


Dua tahun lalu ia masih mengendarai BMW putih setiap kali ke kantor. Kini ia menggantinya dengan sebuah Volvo hitam. Tetapi di ruang kerjanya di Jalan Teuku Cik Ditiro 31, Jakarta Pusat, tak banyak berubah. Masih ruang kerja yang dulu, yang cuma cukup untuk sebuah meja, kursi dan rak penuh buku.

Dr. Sjahrir yang kini menjalani usia 50, tampak lebih tenang berbicara dan juga tampaknya lebih mudah terharu. Menurut istrinya, Kartini yang berbicara pada peringatan ulang tahun Sjahrir, Sjahrir begitu gelisah menyambut usia setengah abad itu. “Kami di sini berkumpul untuk menghibur dan menguatkan Ciil,” kata Kartini. Ciil adalah panggilan akrab Sjahrir.

Banyak orang menilai mantan aktivis mahasiswa 66 dan 74 ini sudah berubah. Dia sendiri pun mengakuinya. Tetapi perubahan yang bagaimana? Eben Ezer Siadari mewawancarainya di kantornya. Berikut petikannya.


Setelah berusia 50 sekarang, apa keinginan Anda yang sudah tercapai dan apa yang belum?
Dr.Sjahrir: Lebih banyak yang belum daripada yang sudah. Tetapi umur itu menyentak saya. Saya kutip saja cerita dari seorang yang bernama Bill Moyer. Dia adalah penasihat Presiden AS, Lyndon B. Johnson. Baru-baru ini dia mendapatkan operasi jantung yang luar biasa hebat. Nah, dia bicara setelah operasi itu. Bahwa dia selama ini selalu melihat dirinya sebagai anak muda, yang dulu datang ke Washington DC untuk mengubah dunia, dan beranggapan begitu seterusnya. Nah, operasi jantung itu mengubah sikap dasarnya. Karena dia mulai menyadari prinsip the hour glass.

Prinsip the hour glass itu kan, waktu 24 jam dihitung dari pasir-pasir yang jatuh di antara dua cembung yang berhubungan. Ketika kita mulai lahir, seluruh pasirnya ada di atas. Ketika umur kita habis, semuanya di bawah. Nah, usia 50 ini, pasrinya sudah lebih banyak di bawah. Probabilitas untuk hidup sampai 100 tahun, saya abaikan samasekali. Umur 80 juga berat. Artinya, jika sudah demikian, saya setuju dengan Bill Moyers, setiap pasir-pasir yang turun ke bawah menjadi semakin berharga. Ini yang sebelumnya tidak ada dan terabaikan. Seolah-olah saya bisa menjadi aktivis 66 atau 74 selama-lamanya. Ternyata tidak bisa. Ada hal-hal yang harus kita terima tidak bisa kita capai. Sebab, menjadi permanent activist itu berbahaya.

Apakah Anda tidak menyadari bahwa banyak orang berharap agar Anda tetap seperti aktivis dulu?

Betul. Cuma karena saya menyadari bahwa pasir-pasir yang di bawah sudah lebih banyak, seberapa banyak yang bisa saya perbuat? Apa saya bisa dengan drive saya yang dulu untuk mencapai apa yang saya mau? Saya harus sadar bahwa saya tak perlu merasa nasib seluruh republik ini di pundak saya. Saya hanya sebagian dari masyarakat luas, dari bangsa yang sangat besar.

Ini bisa dianggap apologia. Saya akui. Tetapi saya menganggap apa yang saya lakukan ketika menjadi aktivis, berdemonstrasi bersama almarhum Soe Hok Gie dulu, adalah investasi sikap dan pikiran saya. Sekarang dengan 12 buku yang akan saya luncurkan (30 Maret, Red), saya bisa meneguhkan investasi sikap dan pikiran saya itu.

Jadi Anda yang sekarang tidak lagi cuma pemikir, tetapi sudah menjadi praktisi bisnis, benar-benar merupakan pilihan Anda?

Saya kira ini adalah pilihan yang sadar saya ambil. Dalam arti, saya melihat bahwa ada persoalan dalam analisis saya, kaena analisis saya masih tetap mencerminkan analisis yang makro dan general. Saya kemudian sebagai praktisi—sebagaimana Anda ketahui, saya adalah dirut Mitraconvest dan PT Mitracon, juga komisaris di beberapa perusahaan lainnya dan juga memimpin ECFIN. Selain itu, bertindak pula sebagai penasihat berbagai kalangan bisnis. Ini bermanfaat bagi saya, membantu mencari hubungan mikro dan makro yang pernah kita bicarakan.

Sebagai penasihat bisnis, apa saja yang Anda kerjakan?

Saya menjadi penasihat macam-macam. Termasuk Kadin. Saya di dalam Kadin juga merupakan penasihat pribadi dari Ketua Umum. Di dalam kehidupan ekonomi politik kita, banyak sukses ekonomi yang kita capai. Sukses itu, misalnya, membuat sistem perbankan kita begitu dalam sehingga, katakanlah, monetisasi perekonomian begitu berkesan dari M2 dilihat dari PDB. Kapitalisasi pasar modal juga sudah mencapai sepertiga dari PDB.

Tetapi, dalam politik kan lain. Banyak masalah. Di buku Pikiran Politik Sjahrir saya bahas itu. Nah, kalau Anda tanyakan apa sebab strategis saya, untuk menasihati Kadin mau pun perusahaan, supaya jika terjadi sesuatu yang menyangkut perubahan politik, lembaga-lembaga ekonomi ini tidak akan guncang. Sehingga, kita bisa bertahan dalam rel-rel kehidupan sosial ekonomi politik yang tetap menjaga stabilitas.

Di satu sisi ikut terjunnya Anda dalam bisnis bisa mempertajam analisis Anda. Tetapi bagaimana dengan independensi Anda dalam membuat analisis atau memberi nasihat?

Saya kira itu pertanyaan yang legitimate, wajar. Tetapi saya teringat dengan teman saya Kwik Kian Gie dulu ketika dia membeli sebuah perusahaan pialang. Waktu ditanya mengapa membeli perusahaan pialang, dia menjawab, “Kalau saya tidak membeli, lalu apa otoritas saya berbicara tentang bursa?” Sayangnya, kemudian dia menjual perusahaan itu untuk alasan yang lain.

Nah, saya juga berpikir begitu. Kalau saya pada tingkat menara gading bicara soal bursa, saya tidak mengerti soal kliring dan settlement, padahal itu persoalan tidak kecil.

Di sisi lain, saya kan tidak menulis analisis sebuah perusahaan berdasarkan saya ingin perusahaan itu membeli sahamnya dari saya. Karena perusahaan saya terlalu kecil untuk berarti. Tetapi kalau saya sebesar Danareksa atau Makindo.... Perusahaan saya cuma pada tingkat.... tetapi memang tidak gurem-gurem banget juga.

Tetapi nanti akan besar juga, kan?

Tergantung. Tetapi dalam pangsa pasar, saya tidak seoptimistis itu. Kalau Anda lihat dari pangsa pasar, 10 besar itu di bursa sudah jauh mengatasi yang lain, padahal anggota bursa sekitar 185 perusahaan. Sekarang, kalau saya bisa memasuki sedikit saja di sekitar papan tengah ke bawah, sudah baik. Begitu lho. Jadi level saya disitu.

Jadi meski Anda terjun sebagai pelaku bisnis, pekerjaan sebagai pembentuk opini publik lewat tulisan dan seminar akan terus Anda jalankan?

Saya berharap, kalau masih laku di Warta Ekonomi, laku di tempat-tempat di mana saya bisa menulis, saya akan terus menulis. Saya juga, kalau bisa, tidak berhenti mengisi seminar-seminar itu. Karena tantangannya juga menarik sekali. Baru-baru ini saya berbicara di Panin Bank dan mendengar bagaimana mereka di dunia perbankan melihat permasalahan international capital market itu sebagai ancaman. Nah, kalau tak ada begitu-begitu itu, tidak ada touch saya kepada realitas. Tetapi saya juga sadar bahwa saya tidak akan bertahan berpuluh-puluh tahun di situ. Saya berharap pelan-pelan akan facing out dari seminar-semniar. Lima tahun dari sekarang kalau saya diberi umur panjang, saya akan mulai mengarah kepada kegiatan dengan bobot akademis yang lebih berarti.

Dengan sekaligus terjun dalam praktek bisnis, Anda bisa dicurigai bahwa yang Anda bicarakan adalah demi kepentingan Anda. Misalnya, selebaran yang pada waktu RUPS BEJ, yang menuduh Anda macam-macam, menodong konglomerat demi kepentingan Anda.....

Kesempatan ini akan saya gunakan secara baik. Saya kira, dalam kode etik jurnalistik kita tidak bisa mengutip selebaran. Karena selebaran itu tidak mau mengakui siapa penulisnya, kita tidak bisa melacak siapa dirinya, dan dia tidak cukup jantan menyebut siapa dirinya, maka kita berhadapan dengan iklim, seperti yang disebut oleh banyak kalangan, tidak ada kaitannya dengan demokratisasi.

Yang saya sangat senang dari selebaran itu adalah tidak ada sebutir pun kebenaran dari itu. Jadi Anda boleh kemukakan. Misalnya, saya dikatakan diusir dari tempatnya Sudwikatmono, saya tidak pernah datang ke tempat itu. Saya dikatakan mendapatkan uang dari Rompas (kandidat dirut PT BEJ yang dijagokan Sjahrir) Rp100 juta, Rompas mengatakan Rp10 juta pun dia tidak punya. Dan semua nama-nama itu bisa Anda lacak dan tidak akan ada sebutir pun kebenaran dari cerita itu.

Nah, di sini saya melihat, dalam hidup kita ini, kalau kita bawa kerangka emosi kita, apalagi kalau kita berbicara dalam kerangka power atau fisik, kita akan sia-sia. Prinsip the hour glass ini akan tetap saya jaga. Saya tidak akan mau mengotori diri saya dengan menggunakan cara-cara seperti itu.

Mengapa Anda begitu vokal ketika RUPS BEJ kemarin?

Tujuannya hanya lah melindungi investasi saya. Saya menaruh uang di situ. Dan seat yangt kita punyai di bursa itu diperkirakan sudah Rp1 miliar lebih. Jadi, saya berkepentingan. Dan dalam hal ini, bukan saya saja. Saudara Gunawan Yusuf pun sudah berkali-kali bicara. Dan banyak lagi yang lain-lain. Tetapi dari segi artikulasi, karena saya tukang seminar, jadi terasa seperti sistematis dibandingkan yang lain.

Tidakkah Anda merasa takut bila ada tuduhan bahwa Anda telah meninggalkan komitmen Anda dengan teman-teman sesama aktivis dulu, dengan Anda ikut memperjuangkan kepentingan pribadi seperti itu?

Saya pernah mendengar cerita tentang itu. Tetapi apa sih arti ditinggalkan itu? Apakah akrena saya tidak pernah punya waktu untuk orang yang ingin bertemu? Saya kira tidak. Buat saya, penilaian yang paling tinggi adalah penilaian masyarakat. Dan penilaian masyarakat itu mewujud bisa dalam media cetak, bisa dalam media elektronik, percakapan.....

Misalnya, kalau orang melihat saya sekarang naik Volvo, apakah yang dipersoalkan cuma karena saya pakai Volvo itu? Saya menulis banyak buku, misalnya, kok itu tidak dibicarakan? Kok yang dibicarakan Volvo-nya?

Di situ saya ingin menunjukkan kepada Anda, ada satu ayat Al Qur'an yang mengatakan bahwa “Kenikmatan Selalu Membawa Dengki.” Dan saya tidak bisa menghindari itu bila itu muncul dari yang disebut teman-teman lama dulu.

Lagipula, menurut saya, teman-teman saya masih banyak. Dan saya tidak perlu menyebut-nyebut siapa yang datang kemari. Saya tidak akan bicara. Jadi, pertemanan saya tidak sesuatu yang harus di-discourse. Tetapi buku saya ya. Begitu buku itu muncul, dia punya kakinya sendiri. Dan apa pun yang saya lakukan untuk membenarkan buku saya, tidak bisa. Dia punya dinamika sendiri.

Yang mungkin menjadi pertanyaan, bahwa Anda bisa seperti sekarang tidak lepas dari predikat Anda sebagai eksponen 66....

Justru saya tidak pernah mengingkari bahwa saya aktivis. Tetapi kalau saya sebagai aktivis harus berbuat terhadap mereka yang disebut teman-teman dulu, dan bukan terhadap aktivis sekarang, nanti dulu dong. Aktivis ini kan terus berkembang. Ada yang lebih muda, lebih baru. Dan saya tidak perlu cerita apa yang saya lakukan kepada mereka. Hanya publik yang bisa lihat.*** E.E.SIADARI

Pernah dimuat di majalah Warta Ekonomi No 45/VI/3 April 1995
Foto: Kompas

No comments: