Thursday

Walter Packard Memilih Bermain Musik


Carly Fiorina
Tidak ada yang melarang seorang taipan bermain musik. Namun,jika ia lebih memilih menyalurkan hobinya itu tatkala para eksekutifnya berada pada babak-babak penentuan nasib perusahaannya,ini sedikit di luar kelaziman. Dan,Walter Hewlett agaknya memang sengaja berlaku demikian. Putra sulung William Hewlett (pendiri Hewlett Packard, HP) itu, memilih bermain music bersama orkes simfoni  Bohemian Club, sebuah klub musik beranggotakan pengusaha kaya, politisi, dan artis-artis berpengaruh, tatkala rapat dewan pengurus HP bersepakat melakukan merger dengan Compaq. 

Ia memang tak menyukai rencana itu. Maka persetruan antara Hewlett sebagai pemegang saham, dan para eksekutifnya yang dimotori oleh Carleton S. Fironia, sang CEO , pun berlangsung seru. Menurut Hewlett, Compaq adalah mitra merger yang salah bagi HP. “Kita mendapatkan apa yang tidak kita inginkan, dan membahayakan apa yang sudah kita punya,” kata Hewlett seperti yang dikutip berbagai media. 

Fironia tidak mau kalah. Dalam suratnya kepada para pemegang saham, Fironia tak sungkan-sungkan mengkritik balik Hewlett. “Posisi dia (Walter Hewlett) yang menentang merger ini didasarkan pada pandangan yang statis dan sempit tentang HP dan industri, … didasarkan pada pandangan, asumsi dan analis keuangan yang salah…” 
Walter Packard

Entahlah siapa yang bakal menang. Nasib rencana merger itu akan ditentukan pada RUPSLB pada pertengahan tahun ini. Salah satu isu penting dalam perseteruan ini, tetapi sudah sangat klasik, adalah seberapa jauh sebenarnya peran pendiri menentukan perusahaan yang didirikannya. Pendapat praktisi dan akademisi terbelah: sebagian menganggap peranan pendiri sangat penting karena merekalah yang menemukan dan membangun nilai-nilai awal perusahaaan itu. Sebagian lagi berpendapat, pendiri sebaiknya tidak perlu lagi ikut campur. Bagaimanapun, para eksekutif dan profesionallah yang lebih tau seluk-beluk perusahaan.  

Seperti halnya di sebagian perusahaan keluarga yang kemudian go public di AS, pendiri HP bukan lagi penguasa saham dominan di perusahaan itu. Keluarga Hewlett  Packard beserta yayasan yang mereka pimpin, hanya menguasai 16,9% saham. Mereka butuh kerja keras untuk  mempopulerkan sikap oposisi yang secara resmi sudah mereka umumkan. Kendati demikian, bukan berarti kans keluarga Helwett kecil. Di Amerika Serikat, seperti dilaporkan oleh The Economist, sering kali status dan integritas sebagai pendiri sangat kuat pengaruhnya dalam menentukan arah perusahaan. Pada sejumlah perusahaan,keluarga pendiri bahkan masih berperan langsung: Rob Walton memimpin Walt Mart, perusahaan yang didirikan kakeknya, Sam Walton; sementara Chris Galvin  menjadi CEO Motorola, perusahaan yang didirikan kakeknya. Keluarga pendiri  dalam beberapa kejadian justru tampil sebagai penyelamat perusahaan manakala terjadi “kekacauan” manajemen, seperti beberapa kali berlangsung di perusahaan Ford. Keluarga Ford memang sedikit lebih mudah mengambil peran karena mereka  mempunyai hak suara istimewa (mencapai 40%) meskipun sahamnya tidak sebesar itu. Namun,dalam kasus dimana keluarga pendiri menguasai saham kecil pun, sering kali peranan mereka sangat penting, seperti halnya keluarga Watson di IBM. 

Di Asia, terutama di Indonesia, walau pada kenyataannya peranan pendiri bahkan jauh lebih dominan,  pendapat yang populer adalah justru yang kedua. Campur tangan keluarga pendiri baik dalam pengelolaan maupun pengambilan keputusan dianggap berseberangan dengan profesonialisme karena keluarga kerap dianggap mempunyai conflict of interest dalam pengambilan keputusan. Tanri Abeng dan Robby Djohan, dua orang eksekutif profesional yang berjaya di zamannya, adalah orang yang sangat vokal dalam hal ini. Dari sini  pula muncul seolah-olah adanya dikotomi antara pemilik dan profesional.  Tentu saja tidak selalu dikotomi ini selalu benar, namun kenyataan setelah krisis memang menunjukkan nilai-nilai integritas sebagian konglomerat kita memprihatinkan. Kasus BLBI yang melibatkan sejumlah besar taipan menggambarkan demikian rapuhnya nilai-nilai itu  sehingga alih-alih menyelamatkan perusahaan,menyelamatkan diri sendiri pun sebagian dari mereka tak berhasil.  

Akhir-akhir ini luas diperdebatkan tentang boleh tidaknya pemilik lama  membeli kembali perusahaannya yang dilelang oleh BPPN. Di sini ada baiknya kita berkaca dari peran pendiri sejumlah perusahaan yang sudah berumur panjang di AS. Umumnya, para penentang diperbolehkannya  pemilik lama membeli kembali perusahaannya  mengajukan alasan keadilan dalam dalam penolakannya. Bahwa  untuk membayar utang kepada pemerintah saja pemilik lama itu mengaku tidak punya uang, bagaimana mungkin mereka akan dapat menyediakan dana membeli kembali aset-aset itu. Seyogyanya utang itu dulu dibereskan baru diperbolehkan membeli kembali perusahaannya.

Dan berkaca dari kisah Hewlett Packard tadi, kini kita dapat menambahkan satu alasan lagi bagi tidak diperbolehkannya pemilik lama kembali menguasai perusahaannya. Bahwa sejarah di AS menunjukan pendiri adalah benteng terakhir untuk menegakkan nilai-nilai (yang luhur,tentu) perusahaan manakala perusahaan tengah guncang. Maka jika pada kasus BLBI menunjukkan pendiri perusahaan-perusahaanbesar di Tanah Air justru  merusak nilai-nilai itu lewat berbagai  praktik moral hazard yang menyandera para pembayar pajak Indonesia harus turut dibebani BLBI, sudah saatnya ada upaya penyegaran bagi kepemilikan dan pengelolaan perusahaan-perusahaan itu. Dan, dan tak ada pilihan, kita harus mengadopsi  nilai-nilai global yang sudah menjalani sejarah panjang. Itu hanya mungkin datang dari investor bereputasi global juga.

(c) eben ezer siadari
Pernah dimuat di Majalah WartaEkonomi 14 Januari 2002

Post Script
Merger HP dan Compaq pada akhirnya terjadi ketika itu. Carly Fiorina menjabat sebagai CEO perusahaan merger itu sampai tahun 2005. Pada tahun 2008 ia menjadi penasihat bagi calon presiden dari Partai Republik, John McCain. Pada 2009 Fiorina mengumumkan pencalonan menjadi anggota senat mewakili California, tapi kalah suara dari lawannya, Barbara Boxer

No comments: