Tuesday

Potret Eksekutif di Ujung Pena Wartawan Bisnis




Anda boleh memanggilnya Roy saja. Ia suka main bridge. Hobi itu makin menjadi-jadi ketika suhu politik tak menentu pada masa akhir Orde Lama. Ia makin kerap bolos dan kuliahnya pun tak tuntas. Tetapi itu lah yang membuat ia tak pilih-pilih mencari kerja. Ia lakoni apa saja, termasuk dengan menjadi jurutulis di sebuah bank asing di Jakarta. Dan kini, sudah sekian tahun ia duduk sebagai direktur pelaksana Grup Lippo. Mendengar nama panjangnya, Roy E. Tirtadji, Anda mungkin segera mahfum. Dia lah salah satu eksekutif andalan Lippo.


Bagi banyak orang, termasuk kami para wartawan bisnis, bertemu pertama kali dengan Roy adalah sebuah kejutan. Kurus, tinggi dan seperti tak habis-habisnya nyengir, Roy bukan lah sebagaimana eksekutif yang biasa diidamkan mahasiswi pencari jodoh. Bahasanya sederhana, mungkin tak layak kutip bagi wartawan yang mengagungkan retorika. Sosoknya pun tak menampakkan diri sebagai orang ‘kuat’ bila itu adalah kata lain dari berkuasa. Roy samasekali bukan tandingan yang pantas bagi Richard Gere, sosok CEO yang flamboyan dalam film Pretty Woman.

Sebuah keunikan kah Roy?

Tidak, ternyata. Anda pun akan menemukan kesan serupa ketika bertamu kepada Sedyana Pradjasentosa. Memang, banyak orang yang tak meragukan lagi kadar ‘keeksekutifan’ direktur komersial PT Multi Bintang itu. Sudah lebih 13 tahun ia menduduki posisi itu. Oleh sejumlah pengamat ia disebut-sebut sebagai salah satu bintang di perusahaan penghasil bir itu, selain Tanri Abeng, sang manajer satu miliar.

Tetapi lihat lah kemeja coklat lengan pendek yang kerap ia kenakan. Rasanya terlalu sederhana bagi seorang eksekutif di perusahaan PMA itu. Gayanya bicara, caranya menyisir rambut dan hobinya menonton film Indonesia (Ia mengagumi film Langitku Rumahku), rasanya juga terlalu bersahaja untuk bintang seperti dia. Tidak kah Sedyana memasuki dunia yang salah?

Kekagetan Anda akan makin lengkap ketika bersua Gunarni Suworo. Ia dijuluki first lady Bank Niaga karena ia memang presiden direktur bank itu. Tak banyak wanita Indonesia yang sampai ke puncak sebuah bank papan atas, tetapi Gunarni mampu mencapainya. Ia adalah tokoh publik, harus berbicara kepada para investor asing mau pun domestik setidaknya ketika Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) berlangsung.

Tetapi bila menyimak caranya memandang pekerjaannya, kita akan segera bertanya. Mengapa begitu simpel? “Tak ada yang istimewa,” katanya. Ah, duduk di puncak yang mahatinggi itu, mengapa ia tak mau sedikit saja menceritakan sesuatu yang bisa mengundang kekaguman? Dan kemana-mana ia menenteng sendiri tas kerjanya, bila perlu menyelusup diantara sesama rekan eksekutifnya agar tak menarik perhatian. Kemanakah citra eksekutif wanita yang kerap kita bayangkan lewat sosok Demi Moore dalam Disclosure? Atau Margareth Thatcher si wanita besi itu?



(dua)

Kami para wartawan, dalam membuat reportase dan menulis sosok para eksekutif memang kerap datang tidak dengan kertas yang kosong. Sebelumnya, sudah ada semacam sketsa, atau corat-coret premis, atau dalam istilah yang lebih lazim dalam dunia jurnalistik, terms of reference (TOR) sendiri.

Ini tak perlu diherankan karena dunia bisnis memang telah menjadi panggung yang unik. Di atasnya lahir para eksekutif-eksekutif puncak. Mereka menjadi bintang, dibicarakan, sehingga seakan melegenda. Citra yang serba wah tentang para eksekutif pun menjadi keniscayaan, kendati ia bisa dalam pengertian yang mengundang simpati mau pun yang mengerikan.

Dari berbagai literatur, dan biasanya datang dari negara-negara yang maju, kita mendapat gambaran betapa eksekutif adalah orang-orang yang kuat, berani tetapi sangat impersonal. Tugas dalam pengambilan keputusan mengharuskan mereka kukuh dalam kepemimpinan mau pun kompetensi profesional. Karena itu lah, rasanya ada sedikit perasaan kurang rela jika seorang eksekutif tampak biasa-biasa saja, apalagi sampai nyeleneh.

Dalam beberapa bacaan, mereka bahkan digambarkan sebagai penyendiri yang tersesat di hutan lebat. Dalam Decision Makers: The Men and The Million Dollar Moves Behind today’s Great Corporate Success Stories (Truman, Tallye Books, NY 1986) tulisan Robert Heller, misalnya, pekerjaan mereka seolah-olah terus-menerus dikelilingi taruhan kalah dan menang, hancur atau bertahan. Mereka harus bisa bertindak sadis seperti Gerald Greenwald (Chrysler) yang memutuskan menutup sejumlah pabrik dan memPHK karyawan. Atau Robert Allen (AT & T) yang harus mengurangi 24 ribu karyawan pada divisi sistem informasi perusahaan itu.

Tak mengherankan bila sosok esekutif sukses adalah seperti yang kita saksikan dalam potret seorang Richard Gere tadi. Selalu murung, terhipnotis oleh kekuasaan dan tugas keeksekutifannya. Di puncak sana, ia jadi mudah curiga dengan siapa saja sampai lupa hari ulang tahun orang terdekatnya dan bisa saja tergoda menghabiskan berhari-hari di hotel dengan wanita panggilan.

Untungnya, citra yang pedih semacam itu bagi kita di Indonesia memang bukan yang dominan. Kebanyakan kita membayangkan mereka dari tampilan di depan publik. Necis, modis dan cerdas, jalan hidup mereka seolah sebuah keajaiban dan petualangan yang menakjubkan. Mereka adalah jelmaan kekuatan, kemewahan dan tentu saja, ketenaran.

Kita pun tidak terlalu terkejut lagi manakala kita dihadapkan pada fakta bahwa makin banyak anak remaja yang telah menetapkan cita-citanya untuk menjadi pebisnis (Kompas, Juni 1997) sejak lulus SMA. Bukan lagi cita-cita ‘konvensional’ seperti zaman para orang tuanya. Ada orang tua yang memandangnya dengan sedikit kecewa. Mereka seolah tak rela bila sejak remaja anak-anak sudah mengimpikan kemewahan. Kemana naluri para remaja itu, yang biasanya masih mengidolakan pahlawan? Mengapa bukan menjadi dokter, bukan menjadi tentara dan bukan menjadi pilot lagi yang menjadi impian? Kemanakah dunia yang kita anggap luhur itu?

Citra eksekutif yang serba menyenangkan memang tak bisa terhapus di tengah perkembangan dunia bisnis yang kian pesat di Indonesia. Setiap hari kita bisa menyaksikan bagaimana gaya hidup mereka menjadi tontonan. Gaya hidup itu, anehnya, seakan-akan lebih menonjol dibandingkan substansi peran eksekutif itu sendiri. Dan rasanya, tak Cuma anak-anak remaja yang punya imajinasi seperti itu. Ada yang berpendapat memang begitulah kenyataannya.

Ada kesan, setidaknya ini lah antara lain yang ditangkap oleh Dr Sjahrir (Ekonomi Politik Konglomerasi Indonesia, WartaEkonomi, 1985), eksekutif Indonesia lebih menonjol dalam hal konsumsinya dibanding prestasinya. Menurut dia, bila diukur dari cara berbelanja, eksekutif Indonesia memang tak berbeda dibanding dengan eksekutif di negara lain, khususnya Asia Timur. Tetapi dalam hal etos kerja mau pun profesionalisme, eksekutif tak bisa dibandingkan. “Etos kerja eksekutif kita, misalnya, belum menjadi pantulan eksekutif di Korea. Apalagi eksekutif Jepang yang lebih senang membicarakan pekerjaan mereka,” tulis Sjahrir.

Kesan seperti ini didorong lagi oleh citra dunia bisnis di Tanah Air yang berlimpah proteksi dan kolusi. Dalam bisnis yang demikian, produksi dan laba memang menjadi lebih berat ke persoalan kesempatan dan nasib baik. Ada anggapan keberhasilan sedikit sekali hubungannya dengan kerja keras dan kompentensi. Segalanya seolah menjadi mudah bagi mereka yang sudah ‘ditakdirkan’ sebagai anak si Polan, kawan sekolah si B, teman bermain sepak bola Pak C dan sebagainya.

Ketika majalah WartaEkonomi memulai membuat peringkat gaji eksekutif, citra yang sama juga muncul. Sementara para eksekutif makin lama makin merasa wajar jika mereka dibayar mahal, kesan masyarakat umum tampaknya berseberangan. Ada yang mempertanyakan bagaimana mungkin seorang Indonesia menikmati penghasilan miliaran rupiah sementara penduduknya sebagian besar masih hidup pas-pasan.

Sedikit banyak, kami para wartawan yang meliput kegiatan bisnis mungkin juga bisa disalahkan dalam soal ini. Dalam banyak hal, menuliskan bagaimana seorang eksekutif menghabiskan waktu senggangnya di atas yacht atau di lapangan golf, lebih menarik ketimbang menggambarkan suasana rapat yang membosankan. Para eksekutif juga tampaknya lebih nyaman akan pilihan angle seperti ini. Selain akan tampak lebih gagah, siapa pula yang mau rahasia dapurnya terbongkar?



(tiga)

Maka ketika 50 eksekutif dalam buku ini bercerita tentang sebagian perjalanan hidupnya, kesan yang campur aduk segera muncul. Anda mungkin akan sulit mencari benang merah seperti apa sebetulnya eksekutif Indonesia itu. Ada yang dengan gaya informal tapi berisi seperti Roy. Ada yang kesan Indonesianya kentara betul seperti yang kita temui pada Sedyana dan Gunarni. Tetapi Anda pun akan berkenalan dengan bermacam gaya lain yang konon, yang intelektual, atau yang bak priyayi.

Proses mereka mencapainya juga tak selalu merupakan petualangan menarik. Ada yang memang harus jungkir balik ketika masih kuliah. Tetapi yang lain justru merasakannya seperti air yang mengalir, alami dan tak perlu dipertanyakan. Ada yang mengandalkan cemelangnya ide dan sudah mengangankannya sejak masih kecil, tetapi tak sedikit yang justru naik karena perkawanan dan kebetulan. Ada yang memandang berpindah kerja adalah keniscayaan, sama seperti memilih hidangan di restoran. Tetapi ada yang justru mencapai puncak karena loyalitas yang tinggi pada perusahaan.

Alhasil, mungkin Anda akan seperti kami juga. Sudah punya sketsa sendiri, sudah punya premis dan terms of reference yang disiapkan terlebih dulu tetapi ketika mendapatkan semuanya berbeda, keraguan kemudian muncul. Ah, betulkah orang-orang ini eksekutif? Apakah mereka benar-beanr jujur? Atau memang saya sendiri yang salah menyiapkan sketsa, premis dan TOR?

Premis, bagaimana pun memang tak pernah cukup untuk menyimpulkan perjalanan hidup. Life is the art of drawing sufficient conclusions from insufficient premises, kata Samuel Butler, penulis Inggris yang hidup di awal abad 20. Premis disadari tak akan pernah cukup untuk menggambarkan sesuatu dengan sempurna, namun ironisnya, kita harus menerima bahwa dari premis yang tak sempurna itu kita harus mengambil kesimpulan.

Lantas, bagaimana premis-premis yang muncul dalam Sketsa 50 Eksekutif dalam buku ini, bisa dijadikan sebagai sebuah kesimpulan dalam menggambarkan eksekutif di Indonesia?



(empat)

Ketika buku ini rampung, Pemilu di Tanah Air baru saja usai. Di jalanan ketika malam mulai turun, masih berlalu lalang satu dua orang tentara. Di pos penjagaan kantor-kantor bank mau pun supermarket, para pria berseragam hitam masih juga berjaga setengah santai.

Indonesia baru saja melalui sebuah peristiwa yang luar biasa. Pemilu kali ini, menurut para pakar, adalah yang paling bergelora dan panas sepanjang sejarah Orde Baru. Rasanya pendapat itu memang tak berlebihan. Berbagai peristiwa tragis mewarnai masa-masa kampanye. Kerusuhan terjadi dimana-mana. Ratusan orang tewas. Gedung-gedung terbakar dan dilempari batu. Ratusan miliar rupiah harta benda lenyap.

Melihat kerusakan dan emosi yang muncul, kecemasan sempat menyebar. Kejadian-kejadian itu memunculkan ketakutan akan berputarbaliknya arah jarum jam sejarah. Kita seakan kembali ke masa ketika kita masih saling asing satu sama lain. Kita mundur ke waktu-waktu dimana orang lain, kecuali kelompok sendiri adalah musuh.

Saya pun menangkap kesan bahwa kalangan bisnis juga punya ketakutannya masing-masing. Menurut mereka, bila jarum jam sejarah surut, dinamika bisnis juga bakal kembali ke titik nadir. Mungkin kita harus melupakan rencana ekspansi usaha, ekspor ke mancanegara atau inovasi menembus globalisasi. Kita mungkin hanya akan sanggup bicara tentang bisnis sebagaimana nenek moyang kita memulainya, bagaimana sebisa mungkin agar warung, toko atau firmanya masih ada besok hari.

Kecemasan-kecemasan dalam banyak bidang dan kesempatan memang tampak begitu riil. Ia bukan lagi Cuma pada pikiran, tetapi juga dalam tindakan. Kita ingat, ketika Peristiwa 27 Juli 1996 terjadi. Guncangan di pasar modal begitu hebat. Kurs Rupiah juga jatuh. Hampir tiga hari sebelum dan sesudah peristiwa itu, fluktuasi di pasar modal dan uang terjadi di luar apa yang diyakini normal. Semua menggambarkan rasa cemas yang menjelma jadi panik.

Juga ketika masa kampanye berlangsung gemuruh. Kita menyaksikan kecemasan begitu dekat di hadapan kita. Di kota Jakarta, pedagang menutup tokonya lebih awal karena daerah itu akan dilalui oleh arak-arakan kampanye. Oengusaha hotel dan konvensi melaporkan turunnya omset karena sepi pengunjung. RUPS, lembaga tertinggi sebuah perusahaan, banyak yang diundur, menjaga kerawanan yang mungkin timbul. Karyawan di kawasan Segitiga Emas juga menikmati bonus libur berhari-hari karena para atasannya lebih suka membiarkan mereka tinggal di rumah.

Tetapi kecemasan itu ternyata cepat benar uainya. Para pedagang, hanya beberapa jam saja setelah arak-arakan kampanye lewat, berani membuka tokonya kembali. Pasar uang tak bergejolak berkepanjangan padahal spekulasi tentang kerusuhan yang bakal muncul masih terus berlangsung. Ketika Pemilu berlangsung, indeks BEJ malah naik. Dan bank, supermarket, mal serta bioskop tetap buka kendati koran pagi selalu datang dengan ulasan yang panas dan kadang-kadang merisaukan.

Diam-diam kita makin menyadari bahwa dunia bisnis makin punya fundasinya sendiri.Kita cemas tetapi dengan tingkat kecemasan yang makin turun.Kita tahu hari ini toko boleh tutup karena kerusuhan yang masih muncul.Tetapi pada saat ynag sama kita punya harapan yang hampir psti bahwa besok semuanya akan kembali seperti biasa.Kita tetap was-was akan munculnya onar dan pengrusakan tetapi kita juga merasa tak rela bila roda bisnis berhenti berputar. Ya kita bisa merasakan dunia bisnis telah punya “pengikut,” punya “fans” dan punya “darah”nya sendiri.

Diam-diam,mungkin seperti Anda juga, kami para wartawan makin merasakan betapa kita telah akrab dengan sesuatu yang masih asing sepuluh tahun silam. Sebelum ini, kita jarang mengukur kecemasan dengan indeks bursa, dengan kurs mata uang, dengan omzet dagang yang turun. Sekarang, semua telah menjadi rambu yang lazim. Sebelumnya kami para wartawan hampir tak pernah menyaksikan ada petinggi militer yang bicara tentang tetek bengek kegiatan dunia bisnis. Kini, dalam beberapa pertemuan menjelang kampanye kami makin kerap mendengar saran dari aparat keamanan tentang bagaimana caranya agar RUPS perusahaan publik tidak tertanggu semasa kampanye.

Di tengah masih banyaknya kerusuhan, World Economic Forum, lembaga think thank yang berkedudukan di Swiss, menilai Indonesia begitu hebat. Dari sisi daya saing investasi Indonesia ditempatkan di peringkat 15, dari sebelumnya peringkat 30. Sebuah lompatan yang besar. Seakan-akan pergolakan yang merisaukan banyak orang, tak punya pengaruh terhadap berputarnya roda bisnsis. Ada yang kecewa, mengapa ketika korupsi begitu merajalelanya (studi itu juga menempatkan Indonesia pada peringkat pertama dalam hal pungli) kok pujian justru muncul? Apa tak membuat kita besar kepala? Tetapi orang iseng kemudian berkata, dengan tingkat korupsi setinggi itu saja Indonesia sudah bisa melesat, bagaimana kalau tidak?

Ketika kita bicara tentang dunia bisnis yang sudah punya pengikut, punya fans dan punya darahnya sendiri itu, rasanya kita tak boleh mengingkari kehadiran para eksekutif. Pada awalnya, motornya mungkin adalah para saudagar dengan semua lobi dan keringatnya. Tetapi ketika manajemen modern dibutuhkan, seperti yang kita saksikan pada sejumlah perusahaan besar, peran para eksekutif makin menonjol. Sejak deregulasi perbankan 1988, misalnya, kehadiran para eksekutif di sektor finansial seakan tak bisa dibendung dan banjir eksekutif pun tinggal menunggu waktu.

Ada yang mengatakan di Jakarta telah lama muncul apa yang disebut yuppies (young urban profesionals). Jika sepuluh tahun lalu mereka mungkin hanya cukup untuk memenuhi sebuah kafe saja, kini tidak lagi. Mereka telah berkembang menjadi sebuah komunitas yang tanpa terasakan semakin mempunyai pengaruh. Mereka hadir dengan pengetahuan, tata pergaulan dan resiko yangyang belum begitu dikenal pada masa-masa sebelumnya. Lambat laun kita merasakan mereka berhasil mengakrabkannya degan lingkungannya. Mereka memperkenalkan jargon-jargon yang belum banyak digunakan dulu, tetapi terasa mencerahkan. Kita makin terbiasa dengan kata profesional, leadership, produktivitas, efisiensi dan sebagainya.

Tak berlebihan bila banyak ahli yang mengatakan bahwa pranata bisnis, (seperti mekanisme pengambilan keputusan, struktur kelembagaan dan sebagainya) di Indonesia kini kian mantap, bahkan kerap kali berada di depan pranata politik. Dan kelihatannya dalam banyak hal pranata itu muncul dari dunia para eksekutif. Pranata yang mantap itu kemudian membiasakan mereka bersikap kritis dan ingin mengetahui semuanya serba logis.

Ketika Hasan Zen Mahmud terdepak dari posisi direktur utama Bursa Efek Jakarta dan banyak eksekutif lain terlempar dari posisi mereka, mereka tak tinggal diam. Dan pada saat bicaa, mereka sebetulnya bukan cuma memberi penjelasan kepada komuntasnya. Lebih jauh, mereka sedang memberi pelajaran tentang risiko tugas seorang eksekutif kepada semua orang. Begitu pula ketika seorang eksekutif menulis surat pembaca, dan mengeluhkan stiker Sea Games. Ia juga melakukan hal yang sama, mendidik publik tentang sebuah pertanggungjawaban.

Pakar politik mungkin menyebut mereka sebagai kelas menengah, yang dalam pengalaman berbagai negara menjadi motor penggerak perubahan. Eksekutif biasanya menjalankan peranan ini tak Cuma lewat kompetensi profesional yang mereka miliki, juga lewat komitmen dirinya sebagai warga dari sebuah negeri. Ada yang, seperti dengan baik dijabarkan oleh presiden direktur Grup Kodel, Fahmi Idris (WartaEkonomi, 31 Juli 1995), berperan sebagai mikrois. Mereka menjalankan perubahan pada kehidupan publik. Di sisi lain, ada yang berperan sebagai makrois, yang didorong oleh komitmen pribadi ikut menyelami berbagai persoalan yang dihadapi lingkungannya.

Banyak yang tidak setuju dengan pendapat ini, atau setidaknya menganggapnya tidak berlaku di Indonesia. Kritik yang paling derasa tertuju pada osisi para eksekutif itu yang masih lemah. Manakala mereka bekerja pada lingkungan yang penuh proteksi, kolusi dan bentuk-bentuk distorsi yang lain, mereka kerap kali harus takluk. Profesionalisme kemudian mengalami pendangkalan, seolah-olah tercermin dan diukur pada pencapaian tujuan korporasi, kendati tak menghasilkan perubahan pada lingkungannya yang kumuh.

Tetapi teori manakah yang tak pernah diserang? Gagasan optimistis macam apa yang sepi dari gugatan skeptis?

Maafkanlah saya, wartawan yang biasanya lebih suka melupakan jargon apalagi teori. Dan ketika tak kurang dari 50 eksekutif dalam buku ini bicara, rasanya fungsi membawa perubahan itu memang ada pada mereka. Mungkin masih dilakoni dengan nada lirih, mungkin tidak dengan harus membuat orang lain merasa terganggu. Tetapi sudah dimulai.

Maka ketika mereka hilir mudik dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, mengabdi dari satu majikan ke majikan lain, selembar benang mereah akhirnya kita temukan juga. Perjalanan mereka ke puncak, tak lain didorong dan karena keinginan menciptakan perubahan. Pada awalnya mungkin untuk mengubah nasib, suasana, penghasilan mau pun karier. Tapi setelah itu?

Saya percaya, kita semua punya agenda perubahan yang sama.

11 Juni 1997
© eben ezer siadari

(*) Kata pengantar pada buku, Sketsa 50 Eksekutif, WartaEkonomi 1997

No comments: