Monday

Buku Biografi: Anak Tiri Sejarah

Buku-buku biografi kerap dianggap anak tiri sejarah. Karya biografi sering ditempatkan sebagai karya kelas dua dalam studi sejarah. Jokowi dengan puitis menempatkan autobiografinya (Alberthiene Endah, 2014) sebagai “warisan nilai hidup dan kepemimpinan bagi generasi sekarang dan nanti…menjadi inspirasi tanpa tepi…juga semangat memajukan bangsa tanpa tapi.” Mantan Gubernur BI Darmin Nasution (2013) menginginkan memoarnya diterima sebagai “rasional (rationale) atas berbagai langkah yang saya tempuh.” Dan penulis biografi Aburizal Bakrie (1998) dengan yakin menempatkan buku karyanya sebagai “kiat sukses untuk ditularkan terutama untuk generasi muda.” Namun pada kenyataannya sejarawan memandang ragu-ragu terhadap karya semacam ini dalam menyumbang pada kebenaran sejarah.