Monday

Buku Biografi: Anak Tiri Sejarah

Buku-buku biografi kerap dianggap anak tiri sejarah. Karya biografi sering ditempatkan sebagai karya kelas dua dalam studi sejarah. Jokowi dengan puitis menempatkan autobiografinya (Alberthiene Endah, 2014) sebagai “warisan nilai hidup dan kepemimpinan bagi generasi sekarang dan nanti…menjadi inspirasi tanpa tepi…juga semangat memajukan bangsa tanpa tapi.” Mantan Gubernur BI Darmin Nasution (2013) menginginkan memoarnya diterima sebagai “rasional (rationale) atas berbagai langkah yang saya tempuh.” Dan penulis biografi Aburizal Bakrie (1998) dengan yakin menempatkan buku karyanya sebagai “kiat sukses untuk ditularkan terutama untuk generasi muda.” Namun pada kenyataannya sejarawan memandang ragu-ragu terhadap karya semacam ini dalam menyumbang pada kebenaran sejarah.


Para ilmuwan di bidang ini umumnya segan untuk menempatkan karya biografi di panggung utama kajian ilmiah. Karya biografi dianggap kurang akademis (less academic), terlalu subjektif dan parsial. Buku biografi juga dinilai tidak bersifat eksplanatoris terhadap pertanyaan sejarah. Pendekatannya kurang memadai secara teoritis. Metodologi yang digunakan dalam menulis biografi juga dipandang sering terlalu longgar. Ada kecurigaan karya-karya biografi itu tidak ‘sah.’  Acap kali biografer  dipandang bukan sebagai bagian dari ‘klub akademis.’  (Arklay, 2006).

Tidak hanya biografi yang bersifat populer yang mendapatkan cap demikian. Karya-karya biografi yang dilandaskan pada karya ilmiah juga tak lepas dari sasaran keraguan, termasuk di Indonesia. Para ilmuwan asing yang ingin menulis biografi sejarah tokoh domestik, mengaku menghadapi kesulitan. Soalnya pengenalan terhadap tokoh yang akan ditulis, sebagian besar didapatkan dari ‘saksi’ yang semangat mencintai sejarah bangsa sendiri sangat kental. Akibatnya, hal itu dikhawatirkan memunculkan distorsi yang berbahaya jika dikerjakan dari sudut pandang budaya yang berbeda.
Skeptisisme terhadap sejarah biografis di Tanah Air memiliki akar yang jauh ke zaman penjajahan. Penulisan biografi sejarah  pernah mendapat penilaian kurang sedap dari Pemerintah Belanda. Bagi para sejarawan kolonial tradisional ketika itu, penulisan individu-individu dalam sejarah Indonesia dianggap dapat menimbulkan masalah di hadapan para penguasa Belanda. Kisah-kisah perjuangan seorang tokoh  mungkin saja mengagumkan, tetapi dapat menyebabkan penyimpangan dari tema utama sejarah versi resmi.

Sesudah zaman perang, penulisan biografi sejarah juga tetap tak terlalu mendapat perhatian. Anthony Reid (1972) mengatakan Ilmu Sosial modern yang menjadi prioritas mendapat beasiswa ketika itu, lebih peduli pada studi tentang masyarakat dan budaya dengan pola dan kategori-kategori luas, ketimbang mengeksplorasi mentalitas individu. Kekecualian pada sejarah yang bersifat biografis hanya pada bidang roman historis Belanda (1850-an dan 1860-an) yang memunculkan novel-novel yang berpusat pada tema pemberontakan yang beragam warna, seperti Diponegoro, Sentot dan Surapati. Dan sudah dapat dipastikan, literatur itu dalam banyak hal merupakan karya yang bervisi Eropa, subjeknya digambarkan dalam bingkai konvensi romantis Barat.

Anak Tiri yang Digandrungi
Berbeda dengan ranah akademis, buku-buku yang bersifat biografis justru menjadi salah satu medium utama masyarakat awam dalam mengenali dan mempelajari sejarah. Di toko-toko buku Tanah Air dewasa ini, sudah hampir dapat dipastikan buku-buku biografi lebih banyak ketimbang buku-buku sejarah, meskipun tetap harus menjadi catatan bahwa tidak semua buku biografi  berpretensi mengisahkan sejarah. Setiap bulan selalu ada buku biografi baru yang terbit. Tidak demikian halnya dengan buku sejarah.  Buku-buku biografi tokoh penting, tokoh yang dianggap berjasa, pelaku aksi-aksi heroik maupun tokoh kontroversial, kerap dicari dan dibaca bukan semata untuk mengenali sosok itu, melainkan ingin mengonfirmasi ‘duduk perkara’ suatu peristiwa sejarah yang selama ini hanya diketahui melalui jalur (sejarah) formal.

Di sini kita seakan berjumpa pada ‘kecantikan’ si anak tiri yang secara malu-malu sebetulnya diakui juga oleh para sejarawan. Fakta-fakta sejarah yang ditawarkan oleh penelitian-penelitian akademis yang menjadi anak emas itu, sering juga tidak dapat memuaskan rasa ingin tahu masyarakat. Akibatnya sejarah seakan berjarak dengan kehidupan nyata. Sejarah seakan menjadi bagian yang terpisah dari realitas yang dijalani pembacanya. Sebaliknya, biografi dipandang dapat memberikan rasa terkoneksi dengan sejarah. Melalui biografi, penulis dan pembaca menjalin keterpautan dengan orang-orang dari masa lalu, yang pada penelitian-penelitian ilmiah terlupakan atau dipinggirkan. (Pimlott, 1999).

Hal itu terjadi karena biografi meneropong sebuah peristiwa dari level yang mikro –individu—yang merupakan pelaku atau saksi kejadian bersejarah tertentu. Melalui biografi, sebuah kehidupan dikontekstualisasi namun yang diberikannya lebih dari sekadar gambaran kehidupan tokoh. Biografi yang ditulis dengan baik, memberi peluang bagi pembaca mengeksplorasi berbagai isu seperti ideologi, pertentangan kelas pergerakan politik melalui perkisahan yang menggunakan  kaca mata personal pelaku. Theakston (1999) bahkan mengatakan biografi yang diabaikan oleh metodologi ilmu politik itu, adalah sumber studi kepemimpinan yang sangat potensial. Kalaupun tak sepenuhnya memberi kebenaran sejarah, biografi  merupakan pintu pembuka untuk penelitian ilmiah yang lebih lanjut.

Menyandingkan Anak Tiri dan Anak Emas
Dewasa ini makin rendahnya minat generasi muda dalam mempelajari sejarah seakan menjadi keluhan umum. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati bahkan secara anekdotal pernah mengkritik anak muda yang dia tengarai lebih kenal Metallica daripada Bung Tomo.  Minimnya pengetahuan sejarah, menurut dia, membuat anak muda gampang atau malahan tidak menyadari bahwa banyak peristiwa sejarah telah dimanipulasi.

Hal yang sama dikatakan oleh Meutia Farida Hatta dalam kata pengantarnya untuk buku biografi ayahnya, Bukit Tinggi Rotterdam Lewat Betawi (Kompas, 2010). Berkata dia, “Anak-anak muda Indonesia sering mengagumi tokoh dari luar negeri. Presiden Kennedy atau kepala-kepala negara yang sesudahnya dari Amerika Serikat, Mohammad Yunus dari Bangladesh, sang pemberdaya kaum miskin, lebih mereka kenal ucapan-ucapan ataupun gagasan-gagasannya. Namun anak-anak ini lupa atau tidak tahu bahwa gagasan untuk mencintai tanah air dan bangsa sendiri, memberdayakan bangsa sendiri, memberikan lapangan pekerjaan kepada bangsa sendiri sebagai hak bangsa Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan telah dicetuskan oleh Bung Hatta…..”

Generasi muda tidak sepenuhnya menjadi pihak yang harus disalahkan dalam kasus ini. Pertanyaan sejauh mana penelitian-penelitian sejarah dirasakan memiliki relevansi dengan kehidupan nyata dan masa kini barangkali merupakan kata kunci yang penting. Biografi sebagai anak tiri dalam pelajaran Sejarah, terbukti telah mendapat tempat yang layak di hati masyarakat sebagai jembatan memahami sejarah. Selayaknya statusnya sebagai anak tiri  ditinjau ulang, terutama dalam khazanah pembelajaran sejarah generasi muda, khususnya di sekolah-sekolah.

Buku-buku biografi harus makin mendapat tempat sebagai bahan ajar dalam pelajaran di dunia pendidikan kita. Lebih dari itu, pelajaran tentang apa itu biografi, bagaimana menulis biografi, semestinya diberi porsi bukan hanya dalam pelajaran Sejarah tetapi juga dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan memahami apa dan bagaimana biografi ditulis, anak-anak kita dapat secara kritis memahami sejarah. Pada saat yang sama, anak-anak kita  diperkenalkan secara lebih dekat dengan tokoh-tokoh yang turut membentuk dan membangun bangsanya, dengan cara yang lebih hidup dan terkoneksi dengan kenyataan masa kini.

Eben Ezer Siadari, Co-Author The Chinese Ethos, Memahami Adidaya China dari Perspektif Budaya dan Sejarah (2013)

(Dimuat di kolom Anakisis satuharapan.com pada 4 Desember 2014 bisa dilihat di sini.)

Daftar Pustaka
Endah, Alberthiene, Jokowi, Memimpin Kota Menyentuh Jakarta, Metagraf, 2014
Nasution, Darmin, Bank Sentral Itu Harus Membumi, Galang Pustaka, 2013.
Tamara, Nasir, Aburizal Bakrie Bisnis dan Pemikirannya, Penerbit SH, 1998.
Arklay, Tracy (ed), Australian Political Lives: Chronicling political careers and administrative histories, ANU E-Press, 2006
Pimlott, Ben, Is Contemporary Biography History? Political Quarterly 70 (1), 31-41, 1999.
Theakston, Kevin, Permanent Secretaries: Comparative Biography and Leadership in Whitehall dalam R.A.W. Rhodes (ed.),Transforming British GovernmentVolume 2: Changing roles and relationships, Macmillan, 2000.
Anthony Reid, On the Importance of Biography, Indonesia No. 13, A pr., 1972
Hatta, M, Bukit Tinggi-Rotterdam Lewat Betawi, Kompas, 2010.

No comments: