Tuesday

Potret Eksekutif di Ujung Pena Wartawan Bisnis




Anda boleh memanggilnya Roy saja. Ia suka main bridge. Hobi itu makin menjadi-jadi ketika suhu politik tak menentu pada masa akhir Orde Lama. Ia makin kerap bolos dan kuliahnya pun tak tuntas. Tetapi itu lah yang membuat ia tak pilih-pilih mencari kerja. Ia lakoni apa saja, termasuk dengan menjadi jurutulis di sebuah bank asing di Jakarta. Dan kini, sudah sekian tahun ia duduk sebagai direktur pelaksana Grup Lippo. Mendengar nama panjangnya, Roy E. Tirtadji, Anda mungkin segera mahfum. Dia lah salah satu eksekutif andalan Lippo.

Thursday

Walter Packard Memilih Bermain Musik


Carly Fiorina
Tidak ada yang melarang seorang taipan bermain musik. Namun,jika ia lebih memilih menyalurkan hobinya itu tatkala para eksekutifnya berada pada babak-babak penentuan nasib perusahaannya,ini sedikit di luar kelaziman. Dan,Walter Hewlett agaknya memang sengaja berlaku demikian. Putra sulung William Hewlett (pendiri Hewlett Packard, HP) itu, memilih bermain music bersama orkes simfoni  Bohemian Club, sebuah klub musik beranggotakan pengusaha kaya, politisi, dan artis-artis berpengaruh, tatkala rapat dewan pengurus HP bersepakat melakukan merger dengan Compaq. 

Ia memang tak menyukai rencana itu. Maka persetruan antara Hewlett sebagai pemegang saham, dan para eksekutifnya yang dimotori oleh Carleton S. Fironia, sang CEO , pun berlangsung seru. Menurut Hewlett, Compaq adalah mitra merger yang salah bagi HP. “Kita mendapatkan apa yang tidak kita inginkan, dan membahayakan apa yang sudah kita punya,” kata Hewlett seperti yang dikutip berbagai media. 

Saturday

Saya tidak mungkin jadi Aktivis Selamanya


Dua tahun lalu ia masih mengendarai BMW putih setiap kali ke kantor. Kini ia menggantinya dengan sebuah Volvo hitam. Tetapi di ruang kerjanya di Jalan Teuku Cik Ditiro 31, Jakarta Pusat, tak banyak berubah. Masih ruang kerja yang dulu, yang cuma cukup untuk sebuah meja, kursi dan rak penuh buku.

Dr. Sjahrir yang kini menjalani usia 50, tampak lebih tenang berbicara dan juga tampaknya lebih mudah terharu. Menurut istrinya, Kartini yang berbicara pada peringatan ulang tahun Sjahrir, Sjahrir begitu gelisah menyambut usia setengah abad itu. “Kami di sini berkumpul untuk menghibur dan menguatkan Ciil,” kata Kartini. Ciil adalah panggilan akrab Sjahrir.

Pleidoi setelah Setengah Abad

Sebagai penganjur deregulasi, ia masih tetap konsisten. Tetapi, keterlibatannya dalam bisnis, membuat independensinya dipertanyakan.

Barangkali Sjahrir harus menyusun satu lagi pleidoi. Makin ramai suara menggugatnya. Ia dituduh tak lagi seperti ketika menjadi aktivis dulu. Dulu, ia selalu bicara atas kepentingan rakyat banyak. Bahkan ia juga masih meneriakkannya lewat seminar-seminarnya. Tetapi sejalan dengan itu ia kini menjadi penasihat konglomerat, direktur utama dan komisaris sejumlah perusahaan, dan tiap hari bepergian dengan Volvo hitamnya. Bahkan ia pernah menjadi saksi pada kasus korupsi Eddy Tansil. Sekadar sikap pragmatis atau penghianatan intelektual?